Teka-Teki Masa Depan Quartararo, Jika Hengkang dari Yamaha, Bisa Saja ke Honda atau KTM?

Beberapa waktu lalu, manajer dari Fabio Quartararo, Eric Mahe, melontarkan pernyataan cukup kontroversial soal pembalap yang ia representasikan. Eric Mahe menyebut bahwa Fabio Quartararo tidak menjamin dirinya bakal bertahan di Yamaha usai musim 2022 berakhir, meskipun kini ia sedang menanti gelar juara MotoGP 2021 bersama pabrikan garpu tala itu.

Sang manajer sama sekali tak ragu bahwa Fabio Quartararo bisa sukses dengan pabrikan lain. Menurutnya kesuksesan Quartararo saat ini lebih ke faktor sang pembalap sendiri, bukan masalah paket motor Yamaha yang bagus.

Eric Mahe juga menyebut bahwa pihaknya dikontak 2,5 tim untuk MotoGP 2023 mendatang, tetapi hingga saat ini masih belum jelas maksud angka 2,5 tim yang dimaksud.

Ada yang menyebut mungkin ada 2 tim yang serius memboyongnya, sementara 0,5 lainnya merepresentasikan salah satu tim yang tidak terlalu serius.

Bisa juga pernyataan tersebut adalah ungkapan rasa kurang puas Quartararo kepada Yamaha.

Namun, yang jelas, kini pernyataan tersebut menimbulkan beberapa spekulasi soal masa depan El Diablo.

Spekulasi tersebut terkait soal tim mana yang berniat memakai jasa pemegang 2 gelar juara CEV Moto3 ini.

Musim lalu Ducati termasuk salah satu tim yang tertarik merekrut jasa Quartararo, namun kini tampaknya hal itu tak jadi target tim Borgo Panigale lagi.

Banyaknya talenta muda yang ada membuat Ducati tak lagi melirik Quartararo.

Performa Pecco Bagnaia sejauh ini pun cukup memuaskan Ducati dan Pecco berpeluang besar dipertahankan dalam jangka waktu yang lama.

Ducati mungkin saja mengganti Jack Miller, tapi tak perlu pusing soal siapa orangnya karena masih ada Jorge Martin ataupun Enea Bastianini yang kini berada di tim satelit.

Aprilia yang baru saja merekrut Maverick Vinales juga jelas tidak masuk radar, begitu juga Suzuki yang nyaman dengan duet Joan Mir dan Alex Rins.

Honda dan KTM-lah yang paling dihubungkan sebagai 2 tim yang berminat merekrut Quartararo.

HRC masih punya sedikit masalah karena Pol Espargaro belum sepenuhnya bisa memahami karakter RC213V, di saat Marc Marquez perlahan bisa menaklukkannya kembali.

Jika Pol Espargaro gagal memenuhi ekspektasi, bukan tidak mungkin Quartararo akan jadi solusi untuk diduetkan dengan Marc Marquez.

Sementara itu KTM juga berusaha untuk terus kompetitif di MotoGP.

Selain soal motor, KTM juga membutuhkan pembalap yang sanggup jadi pembeda dan Quartararo bisa jadi sosok yang tepat.

Beberapa Pembalap MotoGP Mengecam Aksi Sembrono dan Setuju Sanksi Berat Bagi Para Pembalap yang Membahayakan

Beberapa waktu lalu, Marc Marquez dan sejumlah pembalap MotoGP menyatakan dukungan untuk hukuman keras terjadap pembalap yang berkendara berbahaya, menyusul kecelakaan di balap Moto3 Amerika 2021.

Pada balap Moto3 Amerika 2021, 3 Oktober lalu terjadi kecelakaan yang melibatkan beberapa pembalap.

Awalnya, Deniz Oncu yang mengubah jalur di trek lurus, dianggap bersalah karena “berkendara secara tidak bertanggung jawab yang membahayakan pesaing lain”.

Aksi Deniz Oncu tersebut menyebabkan Jeremy Alcoba terjatuh, Pedro Acosta dan Andrea Migno juga terkena imbasnya pada kecelakaan yang mengerikan itu.

Pembalap tim Red Bull KTM Tech3 itu dihukum tidak boleh mengikuti dua balapan, yaitu di seri Moto3 Emilia Romagna dan Algarve.

Para peraih podium di balapan MotoGP Amerika 2021, yakni Marc Marquez, Fabio Quartararo, dan Francesco Bagnaia, mendukung hukuman seperti itu perlu dilakukan.

Komentar mereka muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang perilaku pembalap, terutama di kategori junior, setelah tiga pembalap meninggal dunia tahun ini. “Tentu saja, itu adalah momen yang menakutkan dan (menonton) TV, semua orang di tim saya terdiam karena Anda tidak pernah tahu,” kenang Marc Marquez, dikutip dari speedcafe.com.

“Ini adalah musim yang sulit bagi dunia balap motor, tetapi memang benar bahwa kesalahan atau pergerakan satu pembalap yang menciptakan semua ini,” sambungnya.

“Saya pikir itu adalah hukuman yang sangat keras tentu saja, dan tentu saja bukan niat Oncu, tetapi memang benar bahwa pada akhirnya mereka harus (mengeluarkan hukuman seperti itu) jika mereka ingin menghentikan gerakan ini,” ucapnya.

Fabio Quartararo juga setuju bahwa tindakan seperti yang dilakukan Oncu harus mendapat hukuman berat.

“Saya pikir, ya, memang benar bagi mereka slipstream sangat penting, tetapi Anda tidak harus mengubah jalur di trek lurus,” tuturnya.

“Tentu saja, itu bukan niat Deniz, tetapi sayangnya kami harus memiliki penalti besar selama balapan, terutama bagi mereka yang membuat gerakan aneh di trek lurus,” bilang Quartararo.

Pecco Bagnaia mengaku bukan pertama kali melihat adegan seperti itu di balap Moto3.

“Saya pikir bagus dia menerima hukuman seperti ini, tetapi itu satu-satunya cara yang pasti untuk mulai mengubah sesuatu,” ujarnya.

Valtteri Bottas Dominan di Turki, Max Verstappen Pimpin Klasemen Lewati Hamilton

Balapan seru tersaji di F1 Turki 2021. Valtteri Bottas, yang sejak awal melesat di depan, tak tersentuh dan akhirnya berhasil memenangkan balapan F1 Turki 2021. Max Verstappen pun berhasil finis kedua diikuti sang rekan, Sergio Perez yang meraih podium 3. Sementara itu, Lewis Hamilton yang memulai balapan dari posisi 11 hanya sanggup finis ke-5 pada balapan di Sirkuit Istanbul Park ini.

Permulaan balapan dimulai dengan trek basah, tetapi hujan tidak terlalu deras sehingga para pembalap hanya memakai ban intermediate. Hamilton sanggup memangkas banyak posisi di lap-lap awal, bahkan beberapa kali mencetak lap tercepat.

Sayangnya rintangan sebenarnya mulai didapatkan Hamilton pada pertengahan balapan. Pada lap 32, Hamilton mulai mendekati Perez untuk memperebutkan posisi keempat. Akhirnya, pada lap-lap berikutnya terjadi pertarungan ketat antara Hamilton dan Perez yang pada akhirnya berhasil dimenangkan Hamilton yang tampil sangat cepat.

Memasuki putaran ke-37, Max Verstappen memutuskan melakukan pit stop dari posisi kedua tetap dengan memakai ban intermediate. Uniknya, ada Sebastian Vettel yang sempat mencoba ban slick di pit stop pertamanya karena merasa trek mengering. Akan tetapi, sungguh disayangkan bagi Vettel, ia harus kembali melakukan pit stop untuk kembali ke ban intermediate karena ban slick tak cukup efektif.

Hal itu membuat banyak pembalap berpikir dua kali untuk mengikuti langkah Vettel.

Beberapa pembalap melakukan pit stop juga tetap dengan ban intermediate, termasuk Sergio Perez yang sempat bertarung ketat dengan Hamilton.

Namun tidak dengan Charles Leclerc yang sempat memimpin balapan karena menunda pit stop, dan juga Lewis Hamilton yang berada di belakangnya.

Hamilton bahkan sempat menunda dan menolak perintah Mercedes untuk pit stop.

Sang juara dunia 7 kali kehilangan banyak waktu hingga akhirnya memutuskan pit stop, tapi ban intermediate yang fresh tampaknya tidak cukup efektif membantunya bertarung di lap-lap akhir.

Pada akhirnya Bottas melenggang terdepan memenangkan balapan diikuti Verstappen dan Perez.

Berikut ini tabel hasil balap F1 Turki 2021:

Dengan meraih podium ke-2 di gelaran balap F1 Turki 2021, Max Verstappen berhasil merebut puncak klasemen sementara F1 2021. Tepatnya, dengan tambahan 18 poin, Max Verstappen kini mengoleksi 262 poin di peringkat pertama klasemen.

Lewis Hamilton yang hanya melakukan start dari posisi ke-11 benar-benar memberikan keuntungan besar buat Max Verstappen. Meski bisa melaju ke beberapa posisi di depannya, pada akhirnya Hamilton hanya sanggup finis kelima. Saat ini raihan poin pembalap pemegang 100 kemenangan F1 ini mencapai 256,5 poin, tertinggal 6 poin dari Max Verstappen. Selisih 6 poin tersebut belum berarti apa-apa di kejuaraan F1 2021, kedua pembalap masih punya peluang yang relatif sama untuk meraih gelar juara.

Apalagi masih ada 6 seri tersisa dan pertarungan kedua pembalap akan semakin seru nantinya. Sementara itu Valtteri Bottas yang meraih kemenangan di Istanbul berhasil menambah pundi-pundi poinnya menjadi 177 sekaligus menjauh dari Lando Norris. Lando Norris malah didekati oleh Sergio Perez yang berhasil meraih podium 3 pada balapan ini.

Berikut klasemen sementara usai balapan F1 Turki 2021:

Di Amerika, Marc Marquez Kembali Digdaya, Quartararo Makin Dekat dengan Gelar Juara

Sesuai prediksi kami saat memuat artikel tentang asa yang masih menyala dari Marquez. Pembalap tim Repsol Honda tersebut kembali menunjukkan kekuatannya dan menaklukkan balapan MotoGP Amerika di Circuit of The Americas (COTA).

Di akhir lomba, Marc Marquez unggul cukup lebar dari Fabio Quartararo yang menempati posisi kedua.

Awalnya, Marquez melakukan start dari posisi 4, lalu ia langsung melesat sejak awal setelah melakukan akselerasi yang cepat. Marquez pun langsung memimpin balapan sejak tikungan pertama, diikuti oleh Fabio Quartararo dan Francesco Bagnaia.

Pada 5 lap awal Marquez masih bermain aman dan tidak berjarak begitu jauh dari pembalap di belakangnya. Setelahnya, barulah Marquez menemukan ritme balapnya, edannya ia langsung makin melaju cepat dan memperlebar jarak.

Podium 2 diamankan Fabio Quartararo yang sejak awal memang berada di posisi kedua. Posisi ketiga berhasil diamankan oleh Francesco Bagnaia yang sebenarnya memulai balapan dengan kurang bagus. Start dari posisi terdepan, Pecco Bagnaia malah mengendur dan melorot di putaran awal dan baru menemukan ritme balapnya pada pertengahan balapan.

Pada Lap 13, Miller sempat memberikan posisinya dengan mudah ke Bagnaia yang kemudian mencoba mengejar pembalap Jorge Martin yang sempat berjarak 2 detik. Di saat Bagnaia mendapatkan ritmenya, Martin malah melambat dan terus tertekan oleh Pecco. Pada saat Pecco sudah sangat dekat, Martin mendapat hukuman long lap penalty karena melaju melewati track limit.

Tak butuh waktu lama Pecco menyalip Martin yang sudah mulai kehabisan kekuatan. Martin baru menjalani long lap penalty-nya di lap terakhir dan posisi keempat harus diserahkan ke Alex Rins.

Sementara itu, Valentino Rossi kembali menjalani balapan kurang bagus di akhir pekan ini. Di tikungan pertama Rossi berada di posisi paling belakang, namun berhasil menemukan ritmenya dalam beberapa lap terakhir. Akhirnya, Rossi berhasil finis P15 dan meraih satu poin pada balapan ini. Berikut hasil lengkap dari, COTA, pada MotoGP Amerika 2021:

Finis kedua di MotoGP Amerika 2021, Fabio Quartararo berhasil memperbesar peluangnya menjadi juara dunia MotoGP 2021. Tambahan 20 poin membuat Fabio Quartararo kini mengoleksi 254 poin, memperlebar jarak dari Francesco Bagnaia.

Francesco Bagnaia yang finis ketiga pada balapan ini menambah pundi-pundi poinnya menjadi 202 poin. Masih ada 3 balapan lagi tersisa di Misano, Portimao, dan Valencia untuk menentukan siapa juara MotoGP 2021. Namun, dengan jarak 52 poin saat ini, Quartararo berpeluang besar mengunci gelar juara MotoGP 2021 di seri selanjutnya di Misano.

Syaratnya, Quartararo harus mempertahankan keunggulan lebih dari 50 poin usai balapan selanjutnya berakhir. Simpelnya, Quartararo harus finis lebih baik dari Pecco atau kedua pembalap sama-sama tidak meraih poin agar gap lebih 50 poin terjaga. Sementara itu, berkat performa gemilangnya, Marc Marquez membuat posisinya naik di tabel klasemen. Marquez naik 2 posisi, kini berada di peringkat ke-7 dengan 117 poin.

Sedangkan, Joan Mir yang finis ke-7 sudah resmi keluar dari jalur perebutan juara MotoGP 2021. Jarak poin Mir dan Quartararo mencapai 78 poin dan tidak mungkin bisa mengejarnya dalam 3 seri tersisa.

Berikut klasemen sementara setelah seri balapan di Amerika lalu:

Asa Marquez Belum Padam, Mungkinkah Ia Akan Menjadi yang Tercepat di Gelaran MotoGP Amerika?

Setelah menjalani musim yang kurang memuaskan dan tidak mengikuti seluruh gelaran balapan MotoGP 2020 lalu karena cedera tangan parah, Marc Marquez mengaku masih belum siap bertarung ketat hingga kini. Marc Marquez akhirnya melakukan comeback balapan tahun ini mulai di seri ketiga MotoGP Portugal, di sirkuit Portimao, April lalu.

Juara dunia MotoGP enam kali ini sangat berambisi meraih kemenangan, meskipun harus jatuh bangun. Dalam 12 balapan yang sudah dijalaninya musim ini, Baby Alien masih saja sering dirundung sial, yaitu empat kali tidak bisa finish karena kecelakaan dan berhasil mendapat satu kemenangan.

Mungkin saja, bagi seorang pembalap yang terbiasa menang, rasanya sulit sekali untuk merelakan diri berada jauh dari podium dan menjaga motivasinya tetap tinggi. Saat ini, sulit bagi Marc Marquez untuk melakukan apa yang diinginkan ketika tubuhnya tidak merespons dengan sempurna. Seperti di MotoGP Inggris, saat dia menjatuhkan Jorge Martin di lap pertama. Bisa dilihat juga kala Marquez mendapat pelajaran di seri balapan Aragon ketika melawan Pecco Bagnaia, Marquez lebih berhati-hati.

“Sekarang saya harus membalap seperti ini, sisakan sedikit margin karena saya belum siap untuk bertarung ketat,” kata Marc Marquez kepada MotoGP.com. “Ada hari-hari ketika saya merasa saya di 80% dan yang lain di 60%,” ujarnya. Ditambah lagi, ada masalah teknis dari motor Honda RC213V yang harus dia percayakan ke tangan rekan-rekannya selama hampir satu tahun.

Dalam beberapa balapan, bahkan Baby Alien harus kembali ke Honda RC213V spek 2019, untuk memulai evolusi motor dari awal lagi. “Ketika saya kembali, motornya tidak cukup kompetitif,” ungkapnya, dikutip dari corsedimoto.com. “Sebelum liburan musim panas kami berada dalam situasi tidak mengerti apa-apa. Inilah sebabnya mengapa kami telah mencoba banyak sasis dan banyak konsep yang berbeda,” sebutnya.

Ketika menang di MotoGP Jerman, Juni lalu, Marquez mengaku balapan dengan motor dan setting-an 2019. Kini Marc Marquez sudah memusatkan perhatiannya pada MotoGP musim 2022.

“Saya tidak ingin menjadi pembalap Honda terbaik, saya ingin menjadi yang terbaik di dunia. Untuk ini kami membutuhkan semua pembalap berkolaborasi dengan para mekanik, untuk meningkatkan motor dan mencoba bertarung pada 2022,” ucap Marc Marquez.

Akhir pekan ini Marc Marquez akan menjalani laga seri ke-15 MotoGP Amerika 2021, hingga saat ini pun ia telah meraih enam kemenangan berturut-turut dari 2013 hingga 2019.

Mari kita tunggu kiprah dari salah satu pembalap yang bisa dibilang terhebat berkat raihannya hingga kini. Mudah-mudahan di Circuit of The Americas, Austin, Texas, Marquez mampu menampilkan suguhan apiknya seperti sebelum ia mengalami kecelakaan dan cedera dulu.

Menurut Pengamat, Performa Rossi di MotoGP 2021 Layaknya Aib

Beberapa tahun belakangan, performa Valentino Rossi di atas motor memang tidak lagi gemilang. MotoGP 2021 mungkin bisa dikatakan jadi panggung terakhir bagi pembalap yang termashyur dengan nomor 46 dalam kariernya sebagai pembalap profesional. Sejauh ini, bahkan salah satu pembalap tim Petronas Yamaha SRT, Valentino Rossi, justru tampil kurang maksimal di 14 seri balapan musim 2021. Tentu saja, kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada musim 2021 saja, mengingat performa The Doctor sebetulnya sudah terlihat menurun sejak MotoGP 2019.

Bicara kondisi terparahnya, kita sebenarnya lumrah menyimpulkan bahwa pada MotoGP 2021 Rossi tampil sangat buruk, ia tidak pernah menyumbangkan satu pun podium untuk tim Petronas Yamaha SRT di MotoGP 2021. Padahal, saat masih membela Monster Energy Yamaha pada 2020 lalu, Rossi setidaknya pernah menyumbangkan satu podium.

Melihat kondisi Valentino Rossi di tim Petronas Yamaha SRT yang seperti ini, jelas menarik perhatian pengamat MotoGP, Carlo Pernat. Pernat bahkan tidak segan-segan menyebut kalau Rossi sudah seperti “aib” bagi tim satelit Yamaha itu. “Bertaruh pada Valentino Rossi di musim 2021 jadi sebuah kesalahan (bagi tim Petronas Yamaha SRT),” katanya, dikutip dari Motosan.es.

Menurut pengamat kawakan tersebut, tim Petronas Yamaha SRT seperti mengorbankan filosofi mereka demi merekrut The Doctor yang performanya sudah terlihat menurun.

Padahal, tim satelit Yamaha ini biasanya merekrut pembalap muda menjanjikan dan meroketkannya agar kemudian bisa siap tampil di ajang bergengsi MotoGP.

“Contohnya pada musim 2019. Tim Petronas Yamaha SRT mengambil keputusan yang sangat bagus dengan merekrut Fabio Quartararo dan Franco Morbidelli,” papar Pernat.

Pernat menambahkan, dirinya sampai bingung sendiri dengan manajemen tim Petronas Yamaha SRT ketika memutuskan untuk merekrut Valentino Rossi.

Ditambah sekarang tim satelit Yamaha tersebut merekrut Andrea Dovizioso yang jelas-jelas bukan pembalap muda untuk MotoGP 2022.

“Memang hasil dari merekrut Dovizioso untuk musim 2022 masih tanda tanya. Tapi yang saya bingungkan, bagaimana bisa tim dengan motor yang ramah untuk pembalap rookie malah menarik pembalap senior?” pungkasnya.

Pecco Bagnaia Penuhi Harapan Kemenangan Back-to-Back di San Marino dan Semakin Dekat Menyalip Quartararo dari Puncak

Hasil fantastis didapat oleh “Pecco” Bagnaia di gelaran MotoGP San Marino kemarin. Mengawali lomba dari pole position, Francesco Bagnaia, berhasil tampil prima dan memenangkan balapan MotoGP San Marino 2021.

Hasil gemilang yang berhasil ia dapatkan membuatnya meraih kemenangan back to back, sekadar tambahan info, Francesco Bagnaia juga menang di Aragon akhir pekan lalu.

Pada awal balapan, Bagnaia langsung melesat memimpin balapan, bahkan menjauh lebih dari satu detik pada lap pertama. Namun, pada beberapa lap terakhir, Bagnaia sebenarnya mendapat tekanan berat dari Fabio Quartararo. Fabio Quartararo yang memakai kombinasi ban hard-medium masih bisa menjaga kecepatannya hingga akhir, dibandingkan Francesco Bagnaia yang memakai hard-soft.

Bagnaia tampak kewalahan di beberapa putaran akhir, tetapi ternyata hal itu tak cukup buat Quartararo merebut kemenangan di Misano, dan harus pasrah mendapat podium kedua.

Sementara itu podium 3 direbut oleh Enea Bastianini yang tampil luar biasa sepanjang akhir pekan. Memakai motor yang dua tahun lebih tua dibanding Bagnaia, Bastianini tampil luar biasa pada 10 lap terakhir dengan melibas banyak pembalap. Padahal Bastianini hanya start dari P12 pada balapan ini, bayangkan jika posisi startnya lebih bagus.

Marc Marquez juga tampil cukup bagus sepanjang balapan ini dan berhasil finis keempat. Sementara itu, di belakangnya ada Joan Mir yang finis kelima, namun harus mendapat penalti turun 1 posisi karena track limit.

Lalu di belakangnya ada Jack Miller yang sempat ngebut di awal bersama Bagnaia, tetapi sayang ia gagal menjaga ritme balapnya dan dilewati beberapa pembalap.

Di kelompok belakang, ada Valentino Rossi yang berhasil finis ke-17.

Kemenangan MotoGP San Marino 2021 membuat Francesco Bagnaia mempertahankan peluang untuk mengejar gelar MotoGP 2021.

Francesco Bagnaia kembali memangkas jaraknya dari pemuncak klasemen, Fabio Quartararo.

Kini Pecco mengoleksi 186, masih tertinggal 48 poin dari Fabio Quartararo yang finis kedua pada balapan ini.

Fabio Quartararo memiliki 234 poin dan masih ada 4 balapan untuk dihadapi sebelum musim berakhir.

Kemenangan Pecco ini juga menunda peluang Quartararo mengunci gelar para seri selanjutnya di COTA, Austin, Amerika Serikat.

Posisi ketiga diduduki oleh Joan Mir yang kini punya 167 poin.

Bagi Mir, jarak 67 poin sudah terlalu jauh dan hampir mustahil untuk bisa mengejar Quartararo demi mempertahankan gelar juaranya.

Di belakangnya dan Johann Zarco dan Jack Miller yang sudah tertinggal hampir 100 poin dari puncak klasemen.

Meski peluang juara hampir sirna, Zarco dan Miller—yang sama-sama rider Ducati—bisa membantu Bagnaia agar memangkas jarak poin dari Quartararo dalam balapan-balapan selanjutnya.

Francesco “Pecco” Bagnaia Targetkan Raih Kemenangan Lagi di Misano

Pekan lalu, Francesco “Pecco” Bagnaia menampilkan balapan epik untuk memenangkan MotoGP Aragon 2021. Pecco Bagnaia sangat bahagia bisa mengalahkan salah satu pembalap top dengan koleksi banyak gelar seperti Marc Marquez. Meskipun sudah meraih kemenangan penting, tampil sangat ciamik, dan bertarung dengan sengit pekan lalu, Pecco tak mau terlalu lama larut dalam kebahagiaan.

Masih ada kejuaraan yang harus di kejar dan saat ini pun pundi-pundi poin yang didapat Pecco masih tertinggal jauh dari Fabio Quartararo. Oleh karena itu, pembalap tim Ducati Lenovo ini sudah harus mengalihkan pikirannya ke MotoGP San Marino 2021.

Untungnya, akhir pekan ini, Pecco akan melakukan balapan di depan pendukungnya di Misano. Dalam kondisi yang on fire, tentunya Pecco sudah punya target tinggi untuk akhir pekan ini. “Aku akan mencoba menang di seri selanjutnya, di Misano, sirkuit yang sangat aku apresiasi,” ungkap Pecco seperti dilansir dari Corsedimoto.com.

“Tapi yang jelas setelah 2 musim di MotoGP, fakta bahwa aku bisa meraih kemenangan pertamaku di tim pabrikan adalah emosi yang besar,” jelas Pecco. Sepertinya, target Pecco di Misano bisa jadi sedikit berat. Wajar saja, Ducati hanya sekali menang dalam sedekade terakhir di salah satu sirkuit yang ada di Italia tersebut. Kemenangan terakhir tim Ducati di Misano terjadi 2018 lalu berkat Andrea Dovizioso.

Kita perlu tahu bahwa hingga saat ini, Marc Marquez adalah pembalap yang mendominasi banyak kemenangan di Misano dalam sedekade terakhir. Akan tetapi, jika melihat bagaimana Pecco menang di Aragon kemarin, bukan hal mustahil untuknya untuk mengulangi kegemilangannya di Misano nanti.

Ada fakta menarik bahwa Sirkuit Aragon juga bukan sirkuit favorit Ducati, tetapi nyatanya Pecco juga bisa menang. Mudah-mudahan dukungan dari fans lokal juga bisa saja membuat Pecco menang di Misano seperti halnya Franco Morbidelli tahun lalu.

Setelah Menang Seri F1 Italia 2021, Daniel Ricciardo Meraih 2 Hal Menggembirakan

Ada dua hal menggembirakan bagi pembalap Australia, Daniel Ricciardo. Saat ini ia sangat senang setelah berhasil menang di balap F1 Italia 2021, Minggu (12/9). Namanya pun sejajar dengan Ayrton Senna.

Bagaimana tidak senang, pasalnya Daniel Ricciardo meraih kemenangan bersama tim yang baru dibelanya tahun ini, McLaren.

Begitupun tim McLaren yang sembilan tahun puasa kemenangan, terakhir pembalapnya menang di F1 Brasil 2012 lewat Jenson Button.

Setelah menang di F1 Italia 2021 itu, Daniel Ricciardo menjadi lebih dekat dengan dua pahlawan balapnya.

Yang pertama legenda balap NASCAR, Dale Earnhardt Sr.

Bos tim McLaren, Zak Brown memiliki mobil Chevrolet Monte Carlo 1984 yang pernah dipakai balapan Dale Earnhardt Sr. Awal tahun ini, Zak Brown berkomitmen untuk menawarkan Daniel Ricciardo tes mobil NASCAR Chevrolet Monte Carlo #3 1984 miliknya.

Mobil itu pernah dipakai pembalap hebat, Dale Earnhardt Sr., pembalap yang menjadi idola Daniel Ricciardo.

Syaratnya, jika Daniel Riccirado berhasil naik podium dengan tim barunya, McLaren.

Akhirnya janji ini harus ditepati Ricciardo akan segera bisa mengendarainya karena dia akhirnya berhasil mengklaim podium untuk McLaren.

Pahlawan kedua yang dia rasa lebih dekat adalah legenda F1 Ayrton Senna, yang memiliki gelar juara dunia F1 tiga kali bersama tim McLaren (1988, 1990 dan 1991).

“Saya minta maaf jika saya terdengar agak egois sekarang, tetapi ketika saya memikirkan McLaren, saya memikirkan Senna,” kata Daniel Ricciardo, dilansir dari foxsports.com.au.

“Itu adalah kenangan awal dan saya telah melihat, seperti piala pada lemari di MTC (McLaren Technology Center) dan memiliki piala kemenangan sekarang dengan nama saya di kabinet yang hampir sama, itu hebat,” ujarnya.

Pembalap yang sudah delapan kali menang ini menambahkan, “Ini seperti dua hal kecil hari ini yang pasti saya hargai, dan itu adalah dua momen surealis kecil yang saya kira telah saya dapatkan.”

Valentino Rossi Turunkan Satu Tim Tambahan pada Gelaran MotoGP San Marino 2021

Selain Sky VR46 Avintia, Valentino Rossi dan koleganya akan melakukan gebrakan di gelaran MotoGP San Marino 2021. Valentino Rossi resmi menurunkan satu tim tambahan pada gelaran MotoGP San Marino 2021 akhir pekan ini. Tim tersebut adalah Bardahl VR46 Riders Academy Team, yang akan ambil bagian sebagai wildcard di kelas Moto3, pada gelaran MotoGP San Marino 2021.

Bardahl VR46 Riders Academy Team sendiri, tahun ini, balapan di kejuaraan Campionato Italiano Velocita (CIV). Perlu diketahui bahwa ini bukanlah pertama kali Bardahl VR46 Riders Academy Team turun sebagai wildcard. Sebelumnya Bardahl VR46 Riders Academy Team sudah pernah tampil di Mugello, MotoGP Italia 2021, pada bulan Mei lalu.

Yang beda dari kesempatan sebelumnya adalah line up pembalapnya. Jika di Mugello VR46 menurunkan Alberto Surra dan Elia Bartolini, pada kesempatan kali ini pembalap yang diturunkan akan sedikit berbeda. Dua pembalap yang akan beraksi di Misano adalah Elia Bartolini dan nama baru, Matteo Bertelle.

“Ini adalah kehormatan tim kami bisa berpartisipasi kedua kalinya di sebuah balapan MotoGP. Untuk Elia dan Matteo, ini akan jadi kesempatan besar untuk menguji diri dan balapan dengan pembalap kompetitif,” ungkap Pietro Bagnaia, manajer tim seperti dilansir dari Corsedimoto.com.

Alberto Surra sendiri kini sudah mendapat kontrak di Snipers Team Moto3. Surra nantinya akan menggantikan posisi Filip Salac, yang mengakhiri kontrak dengan Snipers Team dan akan balapan hingga akhir Moto3 2021.

X