Menyesatkan diri di sarang macan

photo

Bagi orang awam berinteraksi de-ngan beragam mobil mungkin se perti ritual saja, kejadian yang biasa dan rutin. Namun bagi kami setiap mobil memiliki ke-pri badian, apalagi untuk mobil-mobil pre-mium di mana masing-masing produsen ber usaha menonjolkan ego mereka. Kami harus menghormati itu dengan mengendarai dan memberikan arena yang sepadan. Ka-re na itulah cara berinteraksi dengan setiap mo bil tidak sepenuhnya sama. Kali ini kami berkesempatan untuk bermain-main dengan Porsche Macan S, sebuah SUV kompak ke-la hiran Leipzig dengan nama yang diadopsi dari bahasa Indonesia atau lebih tepatnya lagi bahasa Jawa.Porsche Macan pantas dijuluki sebagai pocket rocket. Bodinya yang mirip bayi dari Porsche Cayenne ini ditenagai mesin monster V6 3,0 liter twin turbo bertenaga 340 hp. Akselerasi 0 – 100 km/jam diklaim dapat diraih hanya dalam 3,5 detik. Lebih serunya lagi, Macan dibekali penggerak All Wheel Drive yang membuat ‘cakar-cakar’-nya tetap mencengkeram optimal di atas aspal licin sekaligus tak perlu buru-buru untuk putar haluan saat bertemu ujung aspal.Karena hanya mendapatkan jatah pakai dua hari, rute Jakarta – Puncak – Bandung – Jakarta sengaja kami pilih. Perjalanan di tol Jagorawi pagi itu relatif lengang tak seperti arah sebaliknya menuju Jakarta. Kami bisa puas merasakan akselerasi dan kemampuan ma nuver Si Macan. Setingan suspensi udara dalam mode standar relatif lembut bahkan cen derung membuat kami mengantuk. Trans -misi otomatis PDK 7 percepatan meng gu na-kan dua kopling. Saat mobil melaju dengan gigi 1 maka kopling kedua telah menyiapkan gigi kedua dan begitu seterusnya. Efeknya, perpindahan giginya bisa lebih cepat dari transmisi manual sekalipun dan tidak ada hentakan saat gigi berpindah.

photo_1

Kecepatan terus mengembang dengan mulus dan hanya dibatasi oleh kendaraan lain yang menurut kami menjadi terlalu lamban. Saat mode suspensi kami pindahkan ke Sport dan Sport Plus, Macan semakin stabil dengan setingan suspensi yang sedikit lebih keras dibarengi putaran setir yang lebih responsif dari sebelumnya. Permainan ini terpaksa berakhir begitu kami memasuki kawasan Mega Mendung selepas keluar tol. Lalu lintas menuju Puncak di hari kerja ternyata tidak bebas macet. Jalanan padat kendaraan, dikombinasikan dengan angkutan umum yang bebas ngetem di mana pun mereka suka. Banyaknya toko dan manusia sepanjang jalan menanjak ini memberikan kesan semrawut dan kumuh. Tidak ada lagi angin sejuk yang tersisa, rupanya oksigen telah diperebutkan banyak orang di sini. Ada pemandangan menarik di daerah ini. Wajah-wajah Timur Tengah masih cukup banyak terlihat. Namun kini juga mulai diramaikan oleh orang-orang asing bermata sipit, pipi merah, dan hidung mancung yang mengingatkan pada etnik Hazara dari Afganistan. Entah apakah mereka murni berlibur atau sedang transit sebelum melanjutkan perjalanan mencari ‘Tanah Harapan’. Lalu lintas baru mencair sesaat sebelum Puncak Pass. Lagi-lagi kami harus kecewa. Bentangan perkebunan teh telah tertutup warung-warung yang berdiri seenaknya dan menambah kesan kumuh. Semangat mulai menurun ketika kami belum menemukan lokasi yang sesuai untuk lead photo di hari pertama. Banyaknya titik kemacetan membuat kami urung mengambil gambar di wilayah tebing-tebing batu di Citatah karena matahari telah mengakhiri shift kerjanya. Akhirnya kami menghabiskan waktu di kamar hotel setiba di Bandung dengan letih dan rasa kecewa karena belum mendapatkan foto yang ‘nendang’. Rasanya tidak ada spot foto orisinil yang tersisa di kota Bandung. Kami tak mau terjebak dari spot cafe ke cafe yang terlalu genit untuk menghormati Macan. Keesokan paginya GPS kami seting ke arah Padalarang dengan tebing-tebing batu sebagai lokasi penyelamat perjalanan kali ini. Tak hanya lokasi foto yang menarik, kami pun bisa merasakan kemampuan off-road Sang Macan. Pertama-tama tombol OFFROAD kami tekan dan perlahan suspensi-nya meninggi secara otomatis. Distribusi torsi yang sebelumnya lebih banyak ke roda belakang mulai tersebar merata ke roda depan.

Alur distribusi ini dapat dipantau dari info grafis yang terpampang di layar indikator dekat speedometer. Macan dengan mudah melintasi jalanan berlumpur dalam yang dilewati alatalat berat tanpa stuck sedikit pun. Padahal SUV ini hanya menggunakan ban jalan raya dengan tapak yang tidak didesain untuk membuang lumpur. Jejak yang ditinggalkan pun tidak dalam. Hal ini menandakan keempat roda tidak kekurangan traksi yang ditandai dengan gejala spin berlebih. Setelah puas di lokasi tersebut, kami kembali terserang ‘mati gaya’. Ke mana lagi kami harus membawa SUV mewah ini. Setelah menggeser-geser peta digital pada GPS Garmin, kami menemukan gambar kotak memanjang tak jauh dari situ. Itu sebuah landasan udara! Tak perlu membuang-buang waktu lagi, kami langsung tancap gas mengikuti panduan satelit. Setelah perjalanan sela ma 15 menit, ternyata GPS mengarahkan kami untuk berbelok ke sebuah markas militer.


photo_2
Awalnya kami ragu untuk melanjutkan perjalanan. Maklum, itu markas pelatihan para ‘macan’ untuk mencetak prajurit elit dengan kemampuan setara 10 prajurit reguler. Setelah kami amati kompleks tersebut jauh dari kesan angker. Ada dua gerbang di bagian depan. Masyarakat sipil bebas keluar masuk di salah satu gerbang tanpa penjaga dan satu lagi tertutup portal dengan pos penjaga. Kami pun memberanikan diri untuk menemui petugas jaga. Aneh, biasanya di pos penjagaan selalu bertengger senapan mesin FN Minimi yang efektif menyampaikan pesan ‘penerobos akan ditindak tegas’. Di pos ini justru terlihat seperti pos security di kompleks perumahan elit. Kami pun bertemu dengan bintara bertubuh tegap dengan baret legendarisnya. Bintara tersebut menjelaskan seharusnya kamu mengajukan surat resmi ke komandan untuk mendapatkan ijin memotret tapi tiba-tiba seorang bintara lain datang dan membolehkan melihat-lihat ke dalam kompleks tersebut. Akhirnya kami mendapatkan akses istimewa untuk membawa masuk Macan. Kompleks ini sangat luas dan berbatasan langsung dengan waduk Saguling. Bangunan militer mungkin hanya menempati seperdelapan dari total lahan. Selebihnya justru didominasi persawahan yang dikelola warga desa di sekitar situ dengan biaya sewa per tahun yang sangat murah. Kami pun tiba di landasan udara yang sebelumnya kami temukan di GPS. Landasan ini hanya dapat didarati pesawat NC-212 yang berukuran kecil. Kebetulan saat itu kami bisa melihat langsung prajuritprajurit lintas udara sedang bersiap untuk melakukan terjun bebas. Sebagian lainnya sedang bersiap-siap untuk menerbangkan paramotor. Seorang prajurit duduk di bangku belakang sebagai pilot dan seorang prajurit duduk di depan dengan senapan SS siap tembak. Setelah puas mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah bunker peninggalan militer Belanda di era sebelum kemerdekaan. Kami melintasi jalan tanah yang diapit hamparan sawah menguning. Di satu tempat juga terlihat sekumpulan prajurit sedang berlatih meledakkan TNT. Bahan peledak seukuran kotak pensil yang digantung dengan benang itu sanggup menghancurkan Macan yang sedang melintas dari jarak lima meter.

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras seperti suara ban yang pecah. Bintara yang mendamping kami hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa itu suara tembakan meriam. Sekitar 500 meter dari ujung landasan, prajurit-prajurit artileri medan sedang berlatih menembakkan meriam Howitzer. Setelah berkegiatan, agar kondisi kendaraan terus terjaga sebaiknya Anda harus selalu meluangkan waktu untuk merawat kendaraan baik interior maupun eksterior. Selain melakukan prosedur standar yakni membawa mobil ke tempat cuci langganan, Anda sebaiknya melakukan perwatan plus-plus yang bisa dilakukan dengan mudah dikala senggang dengan produk-produk lansiran STP. Seperti untuk ruang interior, percayakan urusan pembersihan pada STP Tuff Stuff dan STP Son Of A Gun. Produk pertama diformulasikan khusus untuk mengangkat kotoran membandel pada jok, karpet juga plafon mobil Anda. Noda apapun khususnya sisa makanan yang biasanya ditinggalkan oleh putra-putri Anda akan dengan mudah dibersihkan dengan sangat praktis.

Sementara produk kedua, dengan formula khusus ‘’No Streak Thicker’’ (formula Anti gores) dapat mengkilapkan sekaligus merawat dan melindungi seluruh bagian mobil Anda yang terbuat dari vinyl, kulit, karet, plastik dari pengaruh sinar matahari (UV). Untuk eksterior khususnya ban, STP memiliki produk andalan, yakni STP Son Of Gun One Step Tire Care dengan keunggulan ganda. Karena selain dapat membersihkan ban dari segala kotoran yang menempel serta mengkilapkan dan mengembalikan warna ban agar terus berkilau. Dengan penggunaan yang mudah dan praktis, produk ini juga dapat melindungi ban dari kelunturan warna dan mencegah keretakan. Tak ketinggalan adalah alat pembersih debu bernama Microfiber Supreme Duster. Alat ini aman untuk digunakan pada permukaan car kendaraan tanpa mengurangi efek kilau. Dapat mengangkat debu dengan mudah, menghidari baret serta dilengkapi dengan handle berkualitas hingga nyaman digenggam saat digunakan. Dengan perlengkapan-perlengkapan dan harga yang relatif terjangkau pastinya durasi Anda untuk pergi ke salon mobil akan semakin berkurang. Tentunya akan menghemat budget perawatan kendaraan, sekaligus Anda akan lebih puas karena kendaraan akan tetap berkilau dengan cara yang mudah.